adab murid terhadap guru dalam kitab ihya ulumuddin
Ghazalidalam buku Ihya’Ulumiddin Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis Kitab (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (Q.S.Al Baqoroh:2) 1. Adab dan tugas-tugas Murid terhadap Guru 66 2. Adab dan tugas-tugas Guru terhadap Murid 75
KitabKaifa Tusholli yang dipelajari oleh anak SMK Al Azhaar Tulungagung ini adalah karya K. H. M. Ihya Ulumiddin khadimul Ma’had Nurul Haromain, Ngroto, Pujon, Malang. Beliau adalah alumni Ma’had Rushaifah Makkah di bawah asuhan Prof. Dr. as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani. (HS-SMK)
Suhrawardidalam kitabnya ‘Awariful Ma’arif’ yang tertulis pada hujung kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazzali. Tariqah mula berkembang pada awalnya di tanah Arab. Ali Bin Al-Haddad semasa waktu hidup As-Syeikh telah mula menyebarkan tariqah ini di Yaman. Muhammad Batha’ berasal dari Balbek, pula menyebarkan tariqah ini di Syria
Memperhatikanadab-adab ketika berada di depan guru 2.1. Adab Duduk 2.2. Adab Berbicara 2.3. Adab Bertanya 2.4. Adab dalam Mendengarkan Pelajaran 3. Mendoakan guru 4. Memperhatikan adab-adab dalam menyikapi kesalahan guru 5. Meneladani penerapan ilmu dan akhlaknya 6. Sabar dalam membersamainya Menghormati guru
Dirumahnya sendiri, Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf telah menghatamkan kitab Ihya’ Ulumuddin lebih dari 40 kali. Pada setiap kali hatam ia selalu menghidangkan jamuan yang istimewa. Habib Abu Bakar Assegaf betul-betul memiliki ghirah (antusias) yang besar dalam menapaki aktivitas dan akhlaq para aslaf (pendahulunya),
Site De Rencontre Saguenay Lac St Jean. Baca Juga 10 Kata Kata Adab Lebih Tinggi dari Ilmu Untuk Inspirasimu "Pelajarilah ilmu dan ajarilah manusia dan rendahkanlah diri kepada guru dan berlaku lemah lembutlah kepada murid-muridmu." HR. Thabrani Hadist ini menjelaskan bahwa seorang murid harus rendah diri kepada gurunya walaupun ilmunya lebih tinggi darinya, dan menjelaskan kepada guru untuk berprilaku lemah lembut kepada siswanya. Demikian ulasan tentang adab murid terhadap guru dalam kitab Ihya Ulumuddin. Semoga dapat menjadi referensi untuk adik-adik dalam belajar. Semoga bermanfaat. Terkini
Ethics is a science that studies good and bad deeds in the process of carrying out an activity. Ethics is very important for life, especially ethics in the process of obtaining usefel knowledge. The importance of ethics emphasizes that ethics must be studied and applied, especially in the field of education in the process of gaining knowledge. Thinking about the ethics of elerning and learning, is the figure of Imam al-Ghazali, who is one of the scholars who understands the importance of ethics in a person. So I was interested in researching the thoughts og Imam al-Ghazali. The purpose of this research is to make us more aware of and apply the importance of an ethics that we must cultivate in ourselves, especially in the process of gaining knowlodge. In this study, the author uses quantitavive methods, namely conducting library research with data collection techniques by recording, analyzing, reading, and managing research from various books and scientific works that support this research by prioritizing primary data Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free ©2021 The Authors. Published by Medan Re source Center This is an Open Access article distributed under the terms of the Creative Common Attribution License which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the original work is properly cited. Etika Murid dan Guru Menurut Imam Al-Ghazali Dalam Kitab Ihya-Ulumuddin Lasmi Rambe Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Indonesia PENDAHULUAN Pendidikan sangat diperlukan dalam hidup untuk mengembangkan potensi dalam diri, dan sebagai suatu sistem yang memungkinkan seseorang dapat mengarahkan kehidupannya, serta bisa mengembangkan, mendorong untuk bisa menghasilkan ilmu pengetahuan, kecerdasan berfikir, dan berketerampilan yang baik. Pendidikan adalah suatu proses yang utama untuk mengembangkan potensi individu, agar lebih maju dengan berlandaskan nilai-nilai yang tinggi dan kehidupan yang mulia, sehingga terbentuk pribadi yang sempurna Jamali, 1896, p. 3. Dalam proses pembelajaran pasti memerlukan adanya sebuah etika. Etika adalah sifat atau tingkah laku, tabiat atau aturan terkait dengan baik buruk tindakan perbuatan manusia Rahmat Hidayat, 2018, p. 1. Etika sangat penting bagi kehidupan kita, apalagi etika dalam proses memperoleh ilmu yang bermanfaat. Etika merupakan mengamalan dari ilmu, dan sarana mencapai ilmu yang bermanfaat Rahmat Hidayat, 2018, p. 4. Dengan adanya etika akan menjadi pribadi yang adil terus belajar memperbaiki diri untuk menyempurnakan akhlaknya dalam hal apapun. Banyak tokoh Islam yang memiliki kepedulian pemikirannya tentang etika belajar dan pembelajaran, diantaranya adalah Tokoh Imam al-Ghazali, yang merupakan salah seorang ulama yang memahami tentang pengaruh pendidikan pada diri manusia Yaqin, 2004, p. 50. Menurut al-Ghazali akhlak/etika itu didefenisikan tentang kondisi yang menetap didalam jiwa, dimana semua prilaku bersumber darinya dengan penuh kemudahan tanpa memerlukan proses berfikir dan merenung. Apabila kondisi jiwanya menjadi sumber perbuatan-perbuatan yang baik lagi terpuji, baik secara akal dan syariat, maka kondisi itu disebut sebagai etika yang baik. Tetapi apabila yang bersumber darinya adalah perbuatan yang jelek, maka kondisi itupun disebut dengan etika yang buruk Farhad, 2004, p. 57. Al-Ghazali berpendapat bahwa akhlak/etika bukan sekedar perbuatan, bukan pula sekedar kemampuan berbuat, juga bukan pengetahuan, akan tetapi harus menggabungkan dirinya dengan situasi jiwa yang siap memunculkan perbuatan. Keadaan jiwa itu ada kalanya merupakan sifat alami yang didorong oleh fitrah manusia untuk melakukan suatu tindakan atau tidak melakukannya. Perbuatan yang lahir itu akan menjadi tanda dan bukti bahwa seseorang itu mempunyai etika yang baik. Etika sebagai salah satu keseluruhan hidup manusia yang tujuannya adalah kebahagiaan A. Ghazali, 2000. Pentingnya beretika menegaskan bahwa etika itu harus lebih dipelajari dan diterapkan, terutama dalam bidang pendidikan dalam proses meraih suatu ilmu pengetahuan Abdullah, 2002, p. 30. Dengan pentingnya suatu etika maka saya pun tertarik untuk meneliti tentang Etika Murid dan Guru Menurut Imam al-Ghazali dalam Kitab Ihya-Ulumuddin. Ethics is a science that studies good and bad deeds in the process of carrying out an activity. Ethics is very important for life, especially ethics in the process of obtaining usefel knowledge. The importance of ethics emphasizes that ethics must be studied and applied, especially in the field of education in the process of gaining knowledge. Thinking about the ethics of elerning and learning, is the figure of Imam al-Ghazali, who is one of the scholars who understands the importance of ethics in a person. So I was interested in researching the thoughts og Imam al-Ghazali. The purpose of this research is to make us more aware of and apply the importance of an ethics that we must cultivate in ourselves, especially in the process of gaining knowlodge. In this study, the author uses quantitavive methods, namely conducting library research with data collection techniques by recording, analyzing, reading, and managing research from various books and scientific works that support this research by prioritizing primary data Submitted Revised Accepted 01 September 2021 25 August 2021 18 August 2021 Ethics; al-Ghazali; Students and teachers CITATION APA 6th Edition Lasmi Rambe. 2021. Etika Murid dan Guru Menurut Imam Al-Ghazali Dalam Kitab Ihya-Ulumuddin. Hijaz. 11, 26-33 *CORRESPONDANCE AUTHOR Lasmirambe123 Etika Murid dan Guru Menurut Imam Al-Ghazali Dalam Kitan Ihya-Ulumuddin 27 PEMBAHASAN Biografi Imam Al-Ghazali Al-Ghazali mempunyai nama lengkap yaitu Abu Hamid Muhammad bin muhammad al-Ghazali. Dalam buku Mutiara Ihya-Ulmuddin namanya disebutkan yaitu, ia adalah Zainuddin, Hujjatun Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, at-Thusi an-Naysaburi, al-Faqih, as-Syufi, as-Syafii, al-kota kecil yang terletak di dekat Thus, Provinsi Khurasan, Repubik Islam Iran pada tahun 450 Hijriyah /1058 M Sirajuddin, 2007. Nama al-ghazali berasal dari kata ghazzal, yang artinya tukang pintal benang, karena pekerjaan ayah al-Ghazali adalah memintal benang wol. Sedangkan Ghazali diambil dari kata Ghazalah, yang artinya sebuah nama kampung kelahiran al-Ghazali, yang terakhir inilah yang banyak dipakai, sehingga namanya pun dinisbatkan kepada pekerjaan ayahnya, atau kepada tempat kelahirannya Nasution, 1999. Ayahnya adalah pemintol wol, dengan kehidupan yang sangat sederhana dan hanya mau makan dari hasil usahanya sendiri, dan sangat gemar mempelajari ilmu Tasawuf, dan juga terkenal pencinta ilmu dan selalu berdoa agar anaknya kelak menjadi seorang ulama. Tetapi ayahnya tidak dapat kesempatan untuk menyaksikan segala keinginan dan doanya tercapai. Ia meninggal sewaktu al-Ghazali dan saudaranya Ahmad masih kecil Hermawan and Sunarya, 1971, p. 18. Sebelum ayahnya meninggal ia menitipkan al-Ghazali dan saudaranya Ahmad kepada seorang Sufi yang juga merupakan kerabat, yang bernama Ahmad ibn Muhammad al-Radzikani, ia adalah merupakan sufi, dengan tujuannya untuk dididik dan dibimbing dengan baik. Pendidikan Imam Al-Ghazali Sejak kecil al-Ghazali dikenal sebagai anak yang senang menuntut ilmu pengetahuan. Karenanya tidak heran jika sejak anak-anak ia telah belajar dengan sejumlah guru dikota kelahirannya Hermawan, p. 11. ia mulai mempelajari ilmu yaitu ilmu Fiqih, dan juga belajar menghafal syair-syair, tentang mahabbah cinta kepada Tuhan, Al--Radzikani. Setelah itu ia pun dimasukkan ke sebuah sekolah yang menyediakan biaya hidup bagi para muridnya. Disini gurunya adalah Yusuf an-Nassj, juga merupakan seorang sufi. setelah tamat ia pun melanjutkan pelajarannya ke kota Jurjan yang ketika itu juga menjadi pusat kegiataan ilmiah. Disini ia mendalami pengetahuan bahasa Arab dan Persia, disamping ia pun belajar pengetahuan agama. Gurunya diantaranya Imam Abu Nasr al- Kemudian dimasa mudanya dalam usia 20-28 tahun ia pun pergi belajar ke Nisyapur, juga di Khurasan, yang pada waktu itu merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan yang penting di dunia Islam. Kota yang kedua ini ia rajin mengikuti pelajaran-pelajaran yang diberikan oleh gurunya yaitu al-Haramain al-Juwaini yang merupakan guru besar di Madrasah al-Nizamiah Nisyapur. Al-Ghazali belajar mengenai Teologi, Hukum Islam, Filsafat, Logika, Sufisme, dan ilmu-ilmu alam Syadani, 1997, p. 178. Dengan kecerdasan dan kemauannya dalam belajar yang luar biasa, al-Juwaini kemudian memberikan gelar Bahrum Mughriq laut yang menenggelamkan. Gurunya begitu membanggakannya sebagai sosok generasi yang mampu menggantikan posisi dan kedudukannya. Setelah Imam al-Juwaini meninggal dunia pada Tahun 478 H 1058 M, al-Ghazali pun meninggalkan Naysapur, kemudian ia berkunjung dan menghadiri majelis Wazir Nizam al- Sunarya, 1971, p. 90. Nizham al-Muluk merupakan posisi strategis yang menjadi tumpuan para ulama yang suka bepergian dan menjadi tempat tujuan para imam serta orang-orang terkemuka. Dari berbagai diskusi dan perdebatan dengan orang-orang terkemuka disana, mereka mengakui keunggulan al-Ghazali. Sehingga namanya terkenal dan tersebar luas Farhad, 2004, p. 4. Untuk itu ia selalu mendapatkan penghormatan dan penghargaan yang besar sehingga ia tinggal disana selama 6 tahun lamanya. Pada tahun 1090 M Nizam al-Muluk memintanya pergi ke Bahgdad untuk menjadi guru besar pada Madrasah an-Nizmahiyah Nasional, 2001, p. 26. Di Baghdad, popularitas dan derajatnya meningkat dikalangan para penguasa, para menteri, tokoh-tokoh masyarakat, dan para pemegang kekhalifahan/para pejabat Istana. Empat tahun lamanya al-Ghazali memangku jabatan yaitu sebagai pengajar di berbagai tempat, seperti di Bahgdad, Syam, dan Naisaburi, dan dimasa inilah dia banyak menulis buku-buku ilmiah dan Filsafat Hermawan, p. 90. Tetapi keadaan yang demikian tidak selamanya menentramkan hatinya. Di hatinya mulai mucul, inikah ilmu pengetahuan yang sebenarnya? Inikah cara hidup yang diridhai Allah? Bermacam-macam pertanyaan mucul dari hatinya. Akhirnya ia menyingkir dari kursi kebesaran, maka ia meninggalkan Bahgdad, meningggalkan semua kedudukannya, dan menyibukkan dirinya dengan ketakwaan A. Ghazali, 2008, p. 90. 28 Lasmi Rambe Pada tahun 488 H Beliau melaksanakan ibadah haji. Pada tahun 489 H, ia pun pergi ke Damaskus dan tinggal disitu selama beberapa waktu. Kemudian dari Damaskus ia pergi ke Baitul Maqdis, dan mulailah menulis bukunya, Al-Ihya. Ia mulai berjihad melawan hawa nafsu, mengubah akhlak, memperbaiki watak, dan menempa hidupnya. Setelah beberapa waktu di damaskus al-Ghazali kembali kepada tugasnya semula, mengajar di Madrasah Nizamiyah, memenuhi panggilan Fakhr al-Mulk, putra Nizam al-Mulk. Akan tetapi, tugas mengajar tidak lama dijalankan. Ia kembali ke Thus kota kelahirannya. Disana ia mendirikan sebuah halaqah sekolah khusus untuk calon sufi yang diasuhnya sampai ia wafat Nasional, 2001, p. 27. Setelah berpuluh-puluh tahun lamanya al-Ghazali mengabdikan diri untuk ilmu pengetahuan, dan ia pun sudah memperoleh kebenaran yang hakiki jalan sufi. al-Ghazali pun meninggal dunia dengan tutup usia 55 Tahun tepat pada hari Senin, 14 Jumadil Akhir 505 H/1111 M, dan dikuburkan di Thus Hermawan, p. 90. Al-Ghazali meniggalkan beberapa anak perempuannya, sedangkan anak laki-lakinya Hamid sudah terlebih mendahuluinya. Karya-karya Imam al-Ghazali Al-Ghazali adalah seorang ulama dan pemikir besar dalam dunia Islam yang banyak melahirkan karya tulis. Penguasaan atas ilmu-ilmu yang dimilikinya, dibuktikan secara kuat lewat buku yang ditulisnya. Beliau merupakan seorang yang produktif dalam menulis karya-karya Ilmiahnya. Kitab Ihya-Ulumuddin merupakan karya al-Ghazali yang populer yang memadukan pemikiran Fiqhiyah dengan pemikiran Tasawuf dalam satu gagasan yang utuh. Al-Ghazali menulis hampir 100 buah buku. Bukunya itu meliputi berbagai ilmu pengetahuan, seperti ilmu kalam teologi Islam, Fikih hukum Islam, Tasawuf, Akhlak, dan autobiografi. Karangannya ia tulis dalam bahasa Arab Persia Nasional, 2001, p. 25. Dijelaskan dalam pengantar buku karya al-Ghazali yang berjudul Mutiara Ihya-ulumuddin bahwa al-faqih Muhammad bin al-Hasan bin Abdullah Alhusaini di dalam kitabnya Ath-Thabaqaat al-Aliyyah Fii Manaqibi as-menyebutkan 98 karangan A. Ghazali, 2008, p. 11. As-Subki menyebutkan didalam kitab Thabaqaat As-bahwa karangan Imam al-Ghazali mencapai 58 karangan, sedangkan Thasy Kubra Zadeh menyebutkan di dalam Kitab -Ghazali mencapai 80 kitab. Berikut ini merupakan beberapa warisan dari karya Ilmiah yang paling besar pengaruhnya terhadap pemikiran umat Islam yaitu sebagai berikut 1. Dalam Bidang ilmu Filsafat Tahfut al-Falasifah kekacauan pikiran para Pilosof, Maqasid al-Falasifah Pemikiran para Pil-Ilm kriteria Ilmu-ilmu. 2. Bidang ilmu akhlak dantasawuf Ihya-Ulumuddin menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama, Al-Minqidz Min ad-Dhalal penyelamat dari kesesatan, Ayyuhal Walad wahai anak yaitu tentang akhlak seorang anak, Al-Adab fi ad-Din adab dalam Agama, Bidayah al-Hidayah permulaan mencapai petunjuk, Minhajul Abidin pedoman beribadah, Al-Hikmah Fii Makhluqaatillah Azza Wazalla mendekatkan diri kepada Allah, Kimiya as-kebahagiaan,Mijanul Amal timbangan amal, Misyakatul Anwar lampu yang bersinar banyak, Al--Ihya. latihan atas masalah dalam kehidupan. 3. Dalam bidang Ilmu Tafsir Jawahir Al- - bukti kebenaran. 4. Dalam bidang Fiqih/ Ushul Fiqih Al-Mustashfa pilihan, Al-Basith Fii al- -wasith perantara, Khulashah al-Mukhtashar intisari ringkasan karangan, Al-Wajiz surat wasiat, Syifa al-Ghalil fii al-Qiyas Wa at- 5. Dalam bidang Ilmu Kalam Risalah Fii al--aqaid, Iljaamu al-awam dari ilmu kalam, Al-Iqtishad fii al- E. Dinamika dan Tokoh yang Mempengaruhi Pemikiran al-Ghazali Al-Ghazali adalah sosok pemikir dan ulama yang memiliki kontribusi besar terhadap peradaban Islam Hermawan, p. 93, sehingga ia dikenal sebagai Hujjah al-Islam. Edukasi dan karya-karyanya banyak Etika Murid dan Guru Menurut Imam Al-Ghazali Dalam Kitan Ihya-Ulumuddin 29 mengembangkan pemikiran Islam diberbagai bidang ilmu pengetahuan, terutama dibidang ilmu tasawuf. Dinamika pemikiran al-Ghazali sangat identik dengan pemikiran sufistiknya. Al-Ghazali telah berusaha untuk mengubah istilah-istilah yang sulit menjadi mudah bagi pemahaman orang awam karena kepandaian gaya bahasanya. Melalui pendekatan sufistik inilah al-Ghazali berupaya mengembalikan Islam kepada sumber fundamental, serta memberikan tempat kehidupan keagamaan dalam sistemnya. Hal inilah yang menentukan mengapa ajaran-ajaran Tasawuf yang merupakan upaya spritualisasi Islam banyak tersebar diberbagai wilayah dunia Islam hingga sekarang Syukur and Masyharuddin, 2002. Pemikiran sufistik al-Ghazali banyak ia pelajari dari guru-gurunya yang dahulu, seperti Ahmad bin Muhammad al-Radzikani, Yusuf an-Nassj yaitu merupakan seorang sufi. Kemudian ia berguru kepada Imam Haramain a-Juwaini Nizamiyah nisyapur Dedi Supriyadi, 2009. Kecerdasan al-Ghazali sangat disenangi dan dibanggakan oleh gurunya yaitu Imam al-Haramain, dan memberikan gelar kepada al-Ghazali yaitu Bahrum Mugriq laut yang menenggelamkan. Setelah Imam Haramain wafat, al-Ghaz -Ghazali selalu berpindah dari satu tempat ketempat yang lain untuk mencari suasana baru dalam mendalami ilmu pengetahuan dan mengajarkannya Ahmad, 1975. Kedatangan al-Ghazali disambut oleh Nizam al- untuk menjadi guru Besar di Perguruan Nizamiyah Bahgdad. Pengangkatannya ini didasarkan atas pengetahuannya yang hebat Zar, 2004. Dikota inilah ia menulis buku-buku ilmiahnya, dan mulai berkonflik terutama dengan golongan -Ghazali memahami filsafat dengan seksama, terus mengulang-ulang kajiannya dan meneliti yang terkandung didalam. Pada saat itulah al-Ghazali menyingkap dan membedakan unsur yang benar dan yang Cuma khayatan Abburrazak, 2003. Al-Ghazali tidak menyerang semua cabang filsafat, kecuali tentang Filsafat Ketuhanan. Al-Ghazali melakukan penyerangan kaum filosof karena menurutnya mereka berlebihan menggunakan akal. Dari beberapa sanggahan yang diberikan al-Ghazali, ada tiga pendapat yang dikufurkannya, yaitu Pertama, Tentang paham qadimnya alam. Pahamnya qadim menurut al-Ghazali bahwa alam itu ada dengan sendirinya, tidak diciptakan oleh Tuhan, dan ini bertentangan dengan ajaran Al-Qu menciptakan segenap alam. Menurut al-Ghazali pandangan filosof al-Farabi dan Ibnu sina keliru dalam memaknai -Ghazali menampilkan pandangan Ibnu Sina yang menyatakan bahwa Tuhan mengetahui segala sesuatu dengan pengetahuan Kulliyat umum. Ketiga, tentang paham pengingkaran kebangkitan jasmani di Alam Kubur/Akhirat. Para filsuf berpendapat bahwa yang abadi hanyalah roh jiwa, sedangkan jasmani akan hancur dan tidak kekal. Karena itu pembangkitan nanti pada prinsipnya yang esensi dalam diri manusia adalah jiwanya, bukan jasmaninya, tetapi pembalasan ukhwari menuntut pembangkitan jasmani Nasional, 2001, p. 26. Pertingkaian yang terjadi antara al-Ghazali dengan filosof muslim menjadi sejarah yang panjang dalam dunia filsafat. Pada tahun 1095 al-Ghazali pergi meninggalkan Baghdad dan profesinya sebagai guru, dan pergi mengembara dari satu tempat ketempat lain. Keluarganya pun ditinggalkannya setelah diberi bekal secukupnya. Selama 10 tahun ia menjalani kehidupan sebagai seorang sufi, dan banyak yang tidak mengenalnya lagi. Kemudian ia mengurung diri di dalam mesjid Damascus. Disinilah ia menulis kitabnya Ihya-Ulumuddin yang merupakan perpaduan antara fiqih dan Tasawuf. Pengaruh buku ini menyelimuti seluruh dunia Islam dan masih terasa kuat sampai sekarang. Kehidupan al-Ghazali pada masa tuanya telah mantap coraknya menjadi sufi. dan ia berkeyakinan bahwa tasawuf adalah satu-satunya jalan untuk mencapai kebenaran hakikiNasional, 2001, p. 27 . Etika Murid dan Guru Menurut Imam Al-Ghazali Istilah yang menghubungkan pengertian murid yaitu al- orang yang mencari ilmu pengetahuan. Kata inilah yang ditulis al-Ghazali di dalam kitabnya Ihya- yaitu tentang keutamanan menuntut ilmuIhya. Istilah at- semua orang yang menuntut ilmu pada semua tingkatan. 30 Lasmi Rambe Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi kita, dengan adanya ilmu maka kita akan mengetahui dengan baik dari segala sesuatu, dan bisa memahami dan menyempurnakan dengan penjelasan yang terperinci, dan meyakinkan tanpa kebimbangan dan keraguan dalam memperoleh ilmu A. Ghazali, 2008, p. 27. Orang berilmu mempunyai kedudukan yang tinggi disisi Allah SWT. Kedudukan tersebut diberikan kepada hamba yang mampu menggunakan akal pikirannya dengan baik. Dalil-dalil yang menjadi keutamaan dalam menuntut ilmu dalam kitab Ihya-Ulumuddin yaitu sebagaimana sabda Rasulullah saw A. Ghazali, 2008, p. 463 membentangkan sayap-sayapnya bagi penuntut ilmu sebagai kerelaan terhadap Pentingnya ilmu pada manusia terutama pada diri kita sendiri, maka haruslah mempunyai ilmu yaitu dengan proses pembelajaran, dengan belajar nantinya kita akan mengetahui tentang ilmu-ilmu yang akan bermanfaat bagi kita kemasa depannya. Dan Allah swt pun sangat memuliakan orang-orang mempunyai ilmu dan akan mengangkat derajatnya karena dengan ilmunya ia akan bisa berfikir dengan jernih tentang apa yang akan dikerjakannya. Sebagaimana firman Allah di dalam Al--dalil keutamaan ilmu seperti dalam QS Al-Mujadilah ayat 11 yang berbunyi A. Ghazali, 2008, p. 23 Yang artinya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat, dan Allah maha teliti apa yang kamu kerjakan. Guru dalam pandangan al-Ghazali ialah at- yang berarti mengetahui. Dalam kitabnya ditulis yaitu berpengetahuan. Guru adalah orang yang memberikan santapan jiwa dengan ilmu, pembinaan akhlak mulia, dan meluruskan perilakunya yang buruk. Oleh karena itu guru mempunyai kedudukan yang tinggi dalam Islam. Al-Ghazali berpendapat bahwa guru disebut sebagai orang-orang yang besar yang aktivitasnya lebih baik daripada ibadah setahun. Sebagaimana dalam QS at-Taubah ayat 122 yang berbunyi Yang artinya Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semua pergi kemedan perang. Mengapa sebagian dari setiap golongan antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya. Selanjutnya al-Ghazali menyimpulkan dari perkataan para ulama yang menyatakan bahwa guru merupakan pelita siraj segala zaman, orang yang hidup semasa dengannya akan memperoleh pancaran cahaya nur keilmiahannya. Andai kata seorang guru/pendidik itu tidak ada, maka niscaya manusia seperti binatang, sebab dengan pendidikan adalah upaya untuk mengeluarkan manusia dari sifat kebinatangan baik binatang buas maupun binatang jinak menuju kepada sifat insaniyah dan ilahiyah A. H. M. bin M. al Ghazali, 2008. Adapun keutamaan mengajarkan ilmu itu ditunjukkan dalam firman Allah swt dalam QS al-Imran [3]187 yang berbunyi Artinya Dan ingatlah, ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab yaitu hendaklah kamu menerangkan isi kitab ini kepada manusia, dan janganlah kamu menyimbunyikannya. Dari ayat diatas dapat diketahui bahwa apabila menyimbunyikan kebenaran dan mereka mengetahui itu, dan dalilnya yaitu tentang keharaman menyimbukan ilmu. Dan siapa-siapa yang menyimbunyikan maka sesungguhnya ia mengetahui, maka ia telah berdosa. Etika Murid dan Guru Menurut Imam Al-Ghazali Dalam Kitan Ihya-Ulumuddin 31 Rasulullah saw bersabda Sesungguhnya Allah SWT dan malaikat dan penduduk langit dan bumi, sehingga semut-semut pada lubangnya, dan ikan-ikan dilautan, mereka akan bershalawat atas manusia yang mengajarkan kebaikan. Dan Rasulullah bersabda akan orang-orang yang berbuat kebaikan yaitu Artinya apabila mati anak adam, maka terputuslah amalnya, kecuali salah satu yang tiga yaitu sedekah Jariyah, atau ilmu yang bermanfaat dengannya, anak anak Sholeh yang selalu mendoakannya. Rasulullah berkata semoga Allah meridhoi Khalifahku. Dan sahabat dari bertanya siapa-siapakah khalifah yang dimaksud ya Rasulullah? Dan berkata Rasulullah, merekalah orang-orang yang mencintai sunnahku dan mengajarkan ilmu kepada hamba--Jabal utnya adalah ibadah, mempelajarinya adalah tasbih, mengkajinya adalah jihad,mengajarkannya adalah sedekah, dan membelanjakan hartanya kepada ahlinya adalah kedekatan qurbah A. Ghazali, 2008, p. 25. Etika Belajar Murid menurut al-Ghazali dalam menuntut ilmu kita haruslah menerapkan adanya sebuah etika dalam pembelajaran. Karena etika seseorang itu merupakan indikator ciri-ciri antara kebahagiaan dan kesuksesannya, dan kurangnya etika merupakan tanda celaka dan binasanya seseorang Jawas, 2016, p. 106. Oleh karena itu seoranng penuntut ilmu wajiblah menjaga adab/etikanya terhadap guru. Diantara etika yang harus diterapkan yaitu dalam kitab Ihya-ulumuddin dijelaskan tentang etikanya seorang murid, dan telah disusun dalam tujuh bagian diantaranya yaitu Pertama, Mendahulukan kesucian jiwa dari pada kejelekan akhlak. Kebersihan yang dimaksud bukanlah dalam bentuk pakaian, melainkan dalam hati. Batin yang tidak bersih tidak akan dapat menerima ilmu yang bermanfaat dalam agama dan tidak akan disinari dengan itu karena Allah swt, maka jika ilmu menolak kecuali dengan Allah, yakni ilmu tertolak dan tercegah dari kita, sehingga tidak menampakkan hakikatnya kepada kita. Kedua, Mengurangi hubungan keluarga dan menjauhi kampung halamannya. Maksudnya adalah kita harus mensedikitkan hubungan dengan dunia, dan menjauhi diri dari keluarga dalam menuntut ilmu, sehingga hatinya hanya terikat kepada ilmu. Karena segala hubungan yang mempengaruhi hidup kita, maka kita tidak akan fokus dalam memperoleh ilmu. Dikatakan bahwa ilmu itu tidak memberikan kepadamu sepenuhnya sebelum engkau menyerahkan padanya seluruh jiwamu. Ketiga, Tidak bersikap sombong terhadap ilmu dan menjauhi tindakan yang tidak terpuji kepada guru. Segala urusan kita harus menyerahkan segala urusannya kepadanya, seperti orang yang sakit menyerahkan urusannya kepada dokter tanpa memutuskan sendiri suatu keperluannya. Keempat, Menjaga diri dari mendengarkan perselisihan diantara manusia. Orang yang pertama kali baru menerjunkan dirinya dalam menuntut ilmu, agar tidak mendengarkan tentang pendapat orang-orang yang berbeda-beda. Hal itu akan mewariskan kebigungan, karena hal yang pertama terjadi adalah kecenderungan pada hatinya, terutama pada pengabaiannya yang akan nantinya menyebabkan kemalasan A. Ghazali, 2008, p. 34. Kelima, Tidak mengambil ilmu terpuji selain mendalaminya hingga mengetahui hakikatnya. Karena dalam mencari dan memilih suatu ilmu, yang terpenting hanya dapat dilakukan setelah mengetahui suatu perkara secara keseluruhan. Keenam, mencurahkan perhatian pada ilmu yang terpenting, yaitu ilmu akhirat. Ketahuilah bahwa semulia-mulia ilmu dan puncaknya adalah adalah pengenalan terhadap Allah SWT. Ilmu merupakan lautan pengetahuan yang tidak diketahui kedalamannya, dan puncak derajat manusia dalam hal ini adalah tingkatan para Nabi dan para wali, kemudian orang yang mengikuti dibawah mereka A. Ghazali, 2008, p. 35. Ketujuh, Hendaklah tujuan seorang murid adalah untuk menghiasi batinnya dengan sesuatu yang mengantarkannya kepada Allah SWT. Dalam hal ini kita akan didekatkan dengan penghuni tertinggi dari orang-orang yang didekatkan al-muqorribun. Dengan menuntut ilmu kita akan dihadapkan dengan orang yang sudah mempunyai ketinggian dalam ilmunya, dan harus dan patut kita tirukan adalah tentang sikapnya dan cara perbuatannya, dengan tidak ada maksud untuk memperoleh kekuasaan, harta, dan pangkat lainnya. Etika Mengajar Guru menurut al-Ghazali adalah menyempurnakan, membersihkan, menyucikan, serta membawa manusia, untuk mendekatkan diri taqarrub kepada Allah SWT. Hal tersebut tujuan utama pendidikan Islam yang utama adalah, upaya untuk mendekatkan diri kepadanya. Barang siapa yang memikul beban pengajaran, 32 Lasmi Rambe maka ia telah memikul perkara yang besar. Maka jagalah etika dan tugasnya seorang guru. Disini akan dipaparkan tentang tugas-tugas seorang guru kepada muridnya. Pertama, Belas kasih kepada murid dan memperlakukannya seperti anak sendiri. Sebagimana sabda Rasulullah saw A. Ghazali, 2008, p. 36. Sesungguhnya aku bagi kalian adalah seperti bapak terhadap anaknya. Guru adalah bapak rohani bagi muridnya, karena guru yang memberikan santapan jiwa dengan ilmu, pembinaan akhlak mulia, dan meluruskan perilakunya yang buruk. Karena itu, haknya didahulukan atas hak kedua orang ketuanya. Jika demikian hendaklah murid itu saling mencintai, karena para ulama dan pecinta akhirat mengembara atau berlomba-lomba menuju Allah swt, dan melewati jalan kepadanya dengan meninggalkan dunia beserta ketinggian dan kemasyhurannya untuk mendekat diri kepada Allah. Kedua, Mengikuti teladan Rasulullah saw, yaitu tidak meminta upah. Janganlah meminta upah atas pengajaran. Seorang guru walaupun mempunyai jasa terhadap para murid, namun mereka juga mempunyai jasa terhadapnya, karena dengan keberadaan mereka sebagai sebab yang mendekatkan dirinya kepada Allah. Dengan menanamkan ilmu dan keimanan ke dalam hati mereka A. Ghazali, 2008, p. 37. Ketiga, Tidak meninggalkan Nasihat. Seorang guru harus sebisa mungkin memperhatikan para muridnya dan mendidik dengan benar. Seperti melarang anak muridnya meloncat pada tingkatan sebelum berhak menerimanya dan mendalami ilmu tersembunyi sebelum menguasai hukum-hukum yang jelas. Keempat, Menasihati murid dan mencegahnya dari akhlak yang tercela. Seorang murid apabila melakukan sesuatu perbuatan yang salah, maka yang harus kita lakukan adalah dengan menasihati dengan pelan-pelan, buka dengan secara terang-terangan. Peneguran secara terang-terangan dapat menjatuhkan wibawanya. Hendaklah berlaku lurus terlebih dahulu sebelum memerintahkan anak muridnya berlaku lurus Istiqamah. Jika tidak, maka nasihat itu tidak bermanfaat, karena mengikuti perbuatan lebih berkesan dari pada mengikuti perkataan SIMPULAN Pengertian Murid menurut al-Ghazali di dalam kitabnya Ihya- tentang keutamanan menuntut ilmu. Istilah at- yang menuntut ilmu pada semua tingkatan. Guru dalam pendapat al-keutamaan mengajar. Maka guru dapat diartikan orang yang mengajar dan orang yang berpengetahuan. Guru adalah orang yang memberikan santapan jiwa dengan ilmu, pembinaan akhlak mulia, dan meluruskan perilakunya yang buruk. Dalam menuntut ilmu haruslah menerapkan adanya sebuah etika dalam pembelajaran. Etika belajar Murid diantara yaitu Pertama, Mendahulukan kesucian jiwa dari pada kejelekan akhlak. Kedua, Mengurangi hubungan keluarga dan menjauhi kampung halamannya. Ketiga, Tidak bersikap sombong terhadap ilmu dan menjauhi tindakan yang tidak terpuji kepada guru. Keempat, Menjaga diri dari mendengarkan perselisihan diantara manusia. Kelima, Tidak mengambil ilmu terpuji selain mendalaminya hingga mengetahui hakikatnya. Keenam, mencurahkan perhatian pada ilmu yang terpenting, yaitu ilmu akhirat. Ketujuh, Hendaklah tujuan seorang murid adalah untuk menghiasi batinnya dengan sesuatu yang mengantarkannya kepada Allah SWT. Menurut al-Ghazali, tugas seorang guru yang utama adalah menyempurnakan, membersihkan, menyucikan, serta membawa manusia, untuk mendekatkan diri taqarrub kepada Allah SWT. Etika mengajar Guru yaitu Pertama, Belas kasih kepada murid dan memperlakukannya seperti anak sendiri. Kedua, Mengikuti teladan Rasulullah saw, yaitu tidak meminta upah. Ketiga, Tidak meninggalkan Nasihat. Keempat, Menasihati murid dan mencegahnya dari akhlak yang tercela. REFERENSI Abburrazak, A. B. 2003. Inilah Kebenaran Puncak Hujjah Al-Ghazali untuk Para Pencari Kebenaran. Jakarta Pt Liman. Abdullah, M. A. 2002. Filsafat Etika Islam. Bandung Mizan. Ahmad, Z. A. 1975. Riwayat Hidup Al-Ghazali. Jakarta Bulan Bintang. Dedi Supriyadi. 2009. Pengantar Filsafat Islam. Bandung Pustaka Setia. Farhad, A. 2004. Menyingkap Rahasia Keajaiban-Keajaiban Ilmu Gaib Laduni Imam al-Ghazali. Surabaya PT Amelia. -Taqwa. Etika Murid dan Guru Menurut Imam Al-Ghazali Dalam Kitan Ihya-Ulumuddin 33 Ghazali, A. H. M. bin M. a Hermawan, H. Filsafat Islam. Bandung Insan Mandiri. Hermawan, H., and Sunarya, Y. 1971. Al-Haqiqah fi Nazri Al -Ghazali. Cairo Dar al- Jamali, M. F. Al. 1896. Filsafat Jawas, Y. bin A. Q. 2016. Adab dan Akhlak Penuntut Ilmu. Jawa Barat Pustaka at-Taqwa. Nasional, D. P. 2001. Ensiklopedi Islam. Jakarta PT Ichtiar Baru. Nasution, H. 1999. Filsafat Islam. Jakarta PT Gaya Media Pratama. Rahmat Hidayat. 2018. Etika Manajemen Perspektif Islam. Medan Lembaga Peduli pengembangan Pendidikan Indonesia LPPPI. Sirajuddin. 2007. Filsafat Islam. Jakarta PT Raja Grafindo Persada. Syadani, A. 1997. Filsafat Umum. Bandung Pustaka Setia. Syukur, H. A., and Masyharuddin. 2002. Intelektualisme Tasawuf Studi Intelektualisme Tasawuf Al-Ghazali. Yogyakarta Pustaka Pelajar. Yaqin, A. M. . 2004. Mendidik Secara Alami. Jombang Lintas Media. Zar, S. 2004. Filsafat Islam filosof dan filasafatnya. Jakarta Raja Grafindo Persada. ResearchGate has not been able to resolve any citations for this murid dan mencegahnya dari akhlak yang tercelaKetigaKetiga, Tidak meninggalkan Nasihat. Keempat, Menasihati murid dan mencegahnya dari akhlak yang Kebenaran Puncak Hujjah Al-Ghazali untuk Para Pencari KebenaranA B AbburrazakAbburrazak, A. B. 2003. Inilah Kebenaran Puncak Hujjah Al-Ghazali untuk Para Pencari Kebenaran. Jakarta Pt A AbdullahAbdullah, M. A. 2002. Filsafat Etika Islam. Bandung A AhmadAhmad, Z. A. 1975. Riwayat Hidup Al-Ghazali. Jakarta Bulan SupriyadiDedi Supriyadi. 2009. Pengantar Filsafat Islam. Bandung Pustaka Ulumuddin. Qairo Mesir Daar al-TaqwaA GhazaliGhazali, A. 2000. Ihya' Ulumuddin. Qairo Mesir Daar GhazaliGhazali, A. 2008. Mutiara Ihya' Ulumuddin. Bandung Pendidikan Dalam Al Qur'anM F JamaliAlJamali, M. F. Al. 1896. Filsafat Pendidikan Dalam Al Qur'an. Surabaya Bina dan Akhlak Penuntut IlmuY JawasJawas, Y. bin A. Q. 2016. Adab dan Akhlak Penuntut Ilmu. Jawa Barat Pustaka Manajemen Perspektif Islam. Medan Lembaga Peduli pengembangan Pendidikan Indonesia LPPPIRahmat HidayatRahmat Hidayat. 2018. Etika Manajemen Perspektif Islam. Medan Lembaga Peduli pengembangan Pendidikan Indonesia LPPPI.
Abstrak Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka library research, penelitian yang obyek utamanya adalah buku-buku atau sumber kepustakaan tentang kitab Ayyuhal Walad, karya Imam al Ghazali. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif, yaitu penelitian yang menggambarkan sifat-sifat atau karakteristik individu, keadaan, gejala, atau kelompok tertentu. Hasil penelitian, pertama, konsep pendidikan karakter merupakan gambaran tentang hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaa pendidikan karakter, baik terkait dengan definisi pendidikan karakter, tujuan pendidikan karakter dan nilai-nilai pendidikan karakter. Kedua,karakter atau akhlak menurut al-Ghazali adalah suatu kemantapan jiwa yang menghasilkan perbuatan dan pengalaman dengan mudah, tanpa harus direnungkan dan redaksi lain, al-Ghazali juga berpendapat Pendidikan karakter adalah sebuah proses pembersihan jiwa. Dari jiwa yang bersih lahir perilaku yang baik, seperti jujur, dermawan, dan sabar. Ketiga, pendidikan karakter dalam kitab Ayyuhal Walad berisi nasihat al-Ghazali kepada muridnya yang meminta nasihat khusus, secara garis besar membehas tentang masalah akhlak kepada Allah, akhlak seorang pendidik, akhlak seorang pelajar, dan akhlak dalam pergaulan. Tujuan dari pembahasan pendidikan akhlak dalam kitab ini untuk mencetak pribadi yang baik, bermoral dan lebih mengutamakan kepentingan Allah Syari’at daripada yang lainnya. Dan juga untuk mendapatkan Ridha Allah SWT. di dunia maupun di akhirat.
ASTUTI, ARI AJI 2011 ADAB INTERAKSI GURU DAN MURID MENURUT IMAM AL GHAZALI DALAM BUKU IHYA’ULUMIDDIN. Skripsi thesis, Universitas Muhammadiyah Surakarta. BACA FULLTEXT Abstract Sekolah adalah sebuah lembaga pendidikan yang dibangun untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Guru dan murid adalah dua unsur utama, yang melakukan proses interaksi dalam kegiatan belajar mengajar. Guru berperan sebagai pendidik yang memberikan pengajaran, pengarahan, dan pembinaan kepada para murid sebagai peserta didik. Dimana, interaksi guru dan murid akan menjadi interaksi yang baik bila berpedoman pada adab-adab yang diatur dalam Islam. Imam Al Ghazali sebagai seorang ulama yang sangat terkenal dalam khasanah pendidikan Islam, yang juga dikenal santun kepada gurunya dan sangat sayang kepada muridnya, merumuskan adab dan tugas-tugas guru dan murid yang sangat pantas dijadikan acuan oleh para guru dan murid di Sekolah. Penelitian dalam skripsi ini membahas masalah bagaimana adab interaksi guru dan murid menurut Imam Al Ghazali dalam buku Ihya’Ulumiddin, dan bertujuan untuk mengetahui pandangan Imam Al Ghazali tentang adab interaksi antara guru dan murid tersebut. Sehingga dapat memberi masukan kepada para guru dan murid bagaimana melakukan interaksi yang baik dalam kegiatan belajar mengajar di Sekolah. Jenis penelitian dalam skripsi ini adalah penelitian pustaka library research, dengan sumber utama buku Ihya’Ulumiddin, ditambah dengan buku- buku penunjang lain yang berkaitan dengan masalah penelitian. Pengumpulan data dilakukan dengan metode dokumentasi, kemudian dianalisis dengan menggunakan metode analisa kualitatif, yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Terdapat 10 tugas murid dan delapan tugas guru yang irumuskan oleh Imam Al Ghazali yaituseorang murid harus mensucikan jiwanya dari akhlaq tercela, tidak boleh sombong terhadap ilmu dan guru, harus menyedikitkan hubungan dengan kesibukan dunia dan menjauh dari keluarga dan tanah air, menghormati guru, mengetahui kedudukan ilmu, menuntut ilmu untuk mendekatkan diri kepada Allah. Seorang guru harus belas kasih kepada murid, mengajari murid sesuai dengan kadar kemampuannya, mengikuti Rasulullah, tidak meninggalkan nasehat guru, dan mengamalkan ilmu yang diajarkan kepada muridnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumusan adab dan tugas-tugas guru yang dipaparkan semua sesuai dengan tujuan pendidikan nasional dan tujuan pendidikan Islam, serta sesuai dengan konsep pemikiran para ahli pendidikan masa kini. Namun dari 10 tugas murid, ada dua rumusan yang tidak ditemukan dalam teori para ahli pendidikan masa kini. Yaitu, “Seorang murid harus menyedikitkan hubungan dengan masalah dunia, dan menjauh dari keluarga dan tanah air”.”Seorang murid yang memulai belajar hendaknya menghindarkan diri dari belajar kepada banyak guru. Konsep pemikiran Imam Al Ghazali juga sangat relevan dengan konsep pendidikan masa kini, dan sangat cocok untuk diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar di Sekolah. Item Type Karya ilmiah Skripsi Additional Information RAK G000/2011-018 Uncontrolled Keywords adab interaksi guru dan murid , Imam Al Ghazali Ihya’Ulumiddin Subjects B Philosophy. Psychology. Religion > BP Islam. Bahaism. Theosophy, etcL Education > L Education General Divisions Fakultas Agama Islam > Pendidikan Agama Islam PAI Depositing User Mrs Esti Handayani Date Deposited 28 Sep 2011 0251 Last Modified 04 Nov 2011 0543 URI Actions login required View Item
Terbit 25 October 2021 Oleh Kategori Ihya 'Ulumuddin Tata krama atau adab yang semestinya dijalankan oleh para guru dan murid adalah sebagai berikut KEWAJIBAN SEORANG MURID Pertama Menjaga diri dari kebiasaan rendah diri dan perilaku tercela. Rasulullah SAW bersabda, “Agama ditegakkan atas kebersihan. Maka kebersihan lahir dan kesucia batin dibutuhkan”. Usaha murid untuk memperoleh ilmu dan pengetahuan adalah amalan hati. Sholat dan ibadah fardhu ain lainnya dikerjakan oleh tubuh, sedangkan untuk memperoleh ilmu dari seorang guru tidak dapat dicapai tanpa menyingkirkan kebiasaan buruk dan sifat-sifat jahat. Ibnu Mas’ud RA pernah berkata, “Ilmu tidak diraih dengan banyak belajar. Ia adalah Cahaya nur yang dipancarkan ke dalam dada”. Kedua Mengurangi keterpautannya pada urusan duniawi semata dan berusaha mencari tempat belajar yang jauh dari kerabat dan kampung halaman karena ilmu tak mungkin diperoleh di lingkungan yang demikian. Ketiga Bersikap tawadhu’ atau tidak meninggikan diri dihadapan gurunya. Ilmu tidak akan dapat diraih kecuali dengan kesederhanaan dan kerendahan hati. Apa saja yang dianjurkan oleh guru, murid harus mengikutinya dan mengesampingkan pendapat pribadinya. Murid hanya boleh bertanya perihal perkara yang diijinkan oleh gurunya saja. Keempat Ia tidak terlalu memberikan perhatian kepada perbedaan antara ilmu duniawi dan ilmu ukhrawi, karena itu bisa menggerus hatinya hingga kehilangan semangat untuk mempelajari ilmu. Ia pertama-tama harus mengindahkan ucapan gurunya dan tidak boleh mempermasalahkan berbagai mazhab. Kelima Tidak boleh meninggalkan satu cabang ilmupun. Ia harus bersemangat untuk mempelajari berbagai cabang ilmu karena setiap cabang ilmu sesungguhnya saling membantu dan berhubungan erat. Keenam Tidak boleh mempelajari atau mendalami beberapa atau semua cabang ilmu dalam satu waktu. Ia harus mempelajari dahulu ilmu yang terpenting bagi kehidupannya. Sedikit ilmu jika diperoleh dengan semangat dan gairah, Insya Allah akan menyempurnakan hati kita untuk mempelajari ilmu-ilmu yang lainnya. Ilmu yang tertinggi dan termulia adalah ilmu mengenal Allah ma’ rifatullah. Ketujuh Tidak boleh mendalami cabang ilmu baru hingga ia menguasai dengan baik cabang ilmu sebelumnya. Satu cabang ilmu umumnya menjadi pengatur dan penuntun bagi cabang ilmu lainnya. Kedelapan Mengetahui sebab-sebab suatu ilmu mulia dikenal. Suatu ilmu yang mulia dapat dikenali dari dua hal yaitu kemuliaan hasilnya dan Kekuatan prinsip-prinsipnya. Sebagai contoh pada ilmu agama dan ilmu kedokteran. Hasil dari agama adalah untuk mendapatkan kehidupan yang kekal dan hasil dari ilmu kedokteran adalah memperoleh kehidupan sementara di dunia. Dari sini tampak jelas bahwa ilmu dengan hasil mengenal Allah, Rasul-Nya, malaikat-Nya, kitab-Nya adalah ilmu yang paling mulia, demikian pula dengan cabang-cabang ilmu penunjangnya. Kesembilan Mempercantik hati dan tindakan dengan kebajikan, menggapai kedekatan dengan Allah SWT dan malaikat-Nya serta bersahabat dengan orang yang dekat dengan Allah SWT. Derajat tertinggi iman seseorang dimiliki oleh para Nabi, kemudian para Wali, lalu para Alim Ulama yang mendalam ilmunya, dan terakhir orang-orang saleh yang mengikutinya. Kesepuluh Memusatkan perhatian pada tujuan utama ilmu. Dunia dan seisinya beserta tubuh ini sudah selayaknya dijadikan kendaraan’ untuk menggapai tujuan utama ilmu yang kita pelajari kelak, yaitu Allah SWT dan tidak ada apapun selain Allah SWT. KEWAJIBAN SEORANG GURU Seseorang yang dikaruniai ilmu yang mendalam, dicerminkan dengan tindakan yang mulia dan mengajarkannya kepada orang lain dipandang lebih mulia daripada para malaikat langit dan bumi. Mereka ini diibaratkan seperti matahari yang menyinari diri sendiri dan memberikan sinarnya kepada alam semesta. Manusia seperti ini laksana kesturi, ia sendiri berbau harum namun juga menebarkan keharumannya kepada orang lain. Orang seperti inilah yang layak dijadikan Guru. Pertama Memperlihatkan kebaikan, simpati dan bahkan empati kepada para muridnya dan memperlakukan mereka seperti anaknya sendiri. Seorang Guru adalah sebab dari kehidupan kekal kelak. Karena ajaran para Guru inilah murid akan mengetahui dan ingat akan kehidupan akhirat. Seorang Guru dinilai akan membinasakan diri dan juga muridnya apabila ia mengajar demi dunia ini. Guru yang berorientasi akhirat tidak akan punya rasa benci, iri dan dengki terhadap muridnya dan siapapun juga. Kedua Mengikuti teladan yang dicontohkan Rasulullah SAW. Ia tidak boleh mencari imbalan dan dan upah di dalam mengajar selain mendekatkan diri kepada Allah dan mentauladani apa yang dilakukan Rasulullah SAW. Ketiga Tidak boleh menyembunyikan nasihat atau ajaran untuk diberikan kepada murid-muridnya. Setelah selesai menyampaikan ilmu-ilmu lahiriyah, seorang Guru haruslah menyampaikan ilmu-ilmu batiniah bahwa tujuan Pendidikan adalah mendekat kepada Allah SWT, bukan mengejar kekuasaan atau kekayaan. Keempat Mencegah murid-muridnya dari memiliki watak dan perilaku jahat dengan penuh kehati-hatian dan dengan cara sindiran, dengan cara simpati bukan keras dan kasar. Kelima Tidak boleh merendahkan ilmu lain dan Guru lain dihadapan para muridnya. Seharusnya Guru suatu ilmu tertentu menyiapkan murid-muridnya untuk belajar lanjutan ilmu-ilmu lainnya dan seterusnya, sehingga tidak punya waktu untuk menceritakan hal yang tercela terkait ilmu lain dan Guru lain. Keenam Mengajarkan murid-muridnya hingga batas kemampuan pemahaman mereka. Apa yang diketahui seorang Guru tidak mesti semuanya disampaikan kepada murid-muridnya sekaligus. Kebijaksanaan lebih bernilai daripada permata sekalipun. Ada peringatan bahwa lebih baik menjaga ilmu dari orang-orang yang bisa menjadi hancur karena memilikinya. Memberikan sesuatu kepada orang yang tidak berhak atas suatu ilmu sama atau tidak memberikannya kepada orang yang berhak adalah sama-sama zalim. Ketujuh Mengajarkan kepada para murid yang terbelakang hanya sesuatu yang jelas dan sesuai dengan tingkat pemahamannya yang terbatas tersebut. Orang acapkali mengira bahwa kebijaksanaan, ilmu dan tindakannya sempurna. Orang terbodoh adalah orang yang merasa puas dengan diri dan pengetahuannya serta menganggap bahwa akalnya sempurna. Kedelapan Guru haruslah mempraktekkan apa yang diajarkan dan tidak boleh berbohong dengan apa yang disampaikannya. Guru dapat diibaratkan seperti tongkat dan murid adalah bayangan dari tongkat tersebut. Bagaimana mungkin bayangan sebatang tongkat bisa lurus apabila tongkat itu sendiri bengkok? اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ Klik disini apabila ingin memiliki kitabnya
adab murid terhadap guru dalam kitab ihya ulumuddin